GKBI Diakonia's Blog

Khotbah


oleh : Pdt Haposan Mesakh Hutagalung

KUNCI KEBERHASILAN

II Tawarikh 32: 24-33

Setiap manusia yang normal pasti ingin berhasil dalam hidupnya. Rumah tangganya berhasil, usahanya berhasil, pendidikannya berhasil dan semuanya berhasil. Apa yang harus kita kerjakan supaya keberhasilan itu menjadi bagian dari hidup kita?

Biasanya, kita belajar dari orang-orang besar yang ada didunia ini. Kita ingin mendapatkan keberhasilan yang sama.

Mari kita belajar dari Hizkia. Saya ingin menggaris bawahi ayat 30: “ Hizkia berhasil dalam segala usahanya.” Alkitab memberikan contoh-contoh yang luar biasa bagi setiap umat Tuhan untuk mencapai keberhasilan yang sama.

Keberhasilan selalu melewati pencobaan dan tantangan. Orang yang berhasil adalah mereka yang berhasil mengalahkan tantangan, pencobaan dan penderitaan. Seringkali kita mau berhasil tetapi kita tidak mau menghadapi tantangan dan pencobaan. Kita kalah karena tantangan dan pencobaan, tetapi kita ingin mendapatkan hasil. Orang yang demikian sesungguhnya adalah orang yang tidak sungguh-sungguh ingin mendapatkan hasil.

Kita belajar dari ayat-ayat diatas. Bagaimana tantangan yang dihadapi Hizkia dan bagaimana kelemahan Hizkia. Hizkia bukan superman. Hizkia bukan orang yang memiliki hal-hal khusus. Hizkia sama seperti kita. Dalam II Tawarikh 32: 24 tertulis: “Hizkia jatuh sakit.” Sakit merupakan suatu pencobaan. Pada ayat 31b tertulis: “Ketika itu Allah meninggalkan dia untuk mencobainya, supaya diketahui segala isi hatinya.”

Jadi Allah memberikan sesuatu supaya dia merasakan, menguji hatinya, apakah dia terpaut dengan pemberian-pemberian Allah. Ataukah dia berpaut pada pemberinya? Allah sangat cemburu kalau hati kita lebih terarah pada pemberiannya dari pada pemberinya. Kalau kita tidak mengutamakan pemberinya, Allah akan mengambil semuanya.

Ketika Abraham diberi anak laki-laki, Allah menguji imannya. Karena itu Allah seringkali menguji kita semua, apakah kita sungguh-sungguh mencintai Allah yang memberi hidup dan tubuh ini atau kita lebih sayang kepada tubuh kita daripada kepada Allah. Itulah sebabnya Allah menguji setiap kehidupan kita.

Seringkali kita kurang berterima kasih kepada Tuhan atas segala sesuatu yang Tuhan berikan kepada kita. Kita sering bersikap masa bodoh. Kita menganggap kita bekerja dan melakukan segala sesuatu karena kemampuan kita sendiri. Coba kita bayangkan, seandainya oksigen yang kita hirup harus kita bayar, maka kita bisa bangkrut.

Ada orang yang segan berdoa karena kehabisan bahan. Coba kalau kita mengucapkan terima kasih atas apa yang telah Tuhan kerjakan dalam hidup kita, maka kita bisa berdoa terus-menerus selama satu minggu tanpa berhenti. Jadi, masalahnya bukan kurang bahan, namun kita yang kurang bersyukur dan kurang menikmati pemberian Tuhan.

Selain tidak berterima kasih penyakit kedua yang dialami oleh Hizkia adalah tidak tahan uji. Dalam ayat 25b tertulis: “ karena ia menjadi angkuh.” Hizkia menjadi angkuh karena banyak harta dan memiliki tahta.

Kita pun seringkali sombong kalau kondisi kita seperti Hizkia. Kita merasa angkuh karena kita merasa lebih dari orang lain.

Disini ada beberapa kunci keberhasilan yang harus kita miliki :

  1. Pertobatan

Ayat 26 tertulis, “Tetapi ia sadar akan keangkuhannya itu dan merendahkan diri bersama-sama dengan penduduk Yerusalem, sehingga murka TUHAN tidak menimpa mereka pada zaman Hizkia.”

Hizkia bertobat dari keangkuhannya. Itu adalah langkah pertama. Setelah bertobat, lalu mereka merendahkan diri. Kita sering jatuh, namun kita harus segera bangkit kembali. Kita tidak perlu menunggu teman-teman seiman, majelis atau bapak pendeta baru mau bertobat dan bangun kembali. Pemenang bukanlah mereka yang tidak pernah jatuh, melainkan mereka yang tidak pernah berhenti untuk bangkit dan mencobanya.

Oleh sebab itu, disini dikatakan, kunci pertama adalah pertobatan. Kita merendahkan diri, sadar akan kesalahan kita, dan melepaskan kesombongan kita. Kita berasal dari debu dan tanah yang pada akhirnya akan kembali kepada debu dan tanah juga. Karena itu, kalau kita jatuh, kita harus merendahkan hati kita dibawah kaki Yesus untuk melembutkan hatiNya. Nah jika kita mau merendahkan diri dihadapanNya, dosa dan kesalahan kita akan diampuni.

Seperti orang bijak mengatakan “ rendahkanlah dirimu serendah mungkin sampai tidak ada orang yang dapat merendahkan engkau, supaya tiba waktunya Tuhan meninggikan engkau sampai engkau sendiri tidak dapat meninggikan diri lagi.”

  1. Doa

Kunci kedua terdapat dalam ayat 20: “Tetapi oleh karena itu raja Hizkia dan nabi Yesaya bin Amos berdoa dan berseru kepada surga.” Hizkia meskipun seorang raja, tetapi mau merendahkan diri dan berdoa. Setelah daud dan Salomo, Hizkia adalah orang yang berhasil juga dalam segala-galanya. Orang yang berdoa adalah orang yang berserah diri kepada Tuhan. Ayat 8 memuat pernyataannya:

”Yang menyertai dia adalah tangan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah Tuhan, Allah kita, yang membantu kita dan melakukan peperangan kita.”

Hizkia menyerahkan diri kepada Tuhan. Dia mengangkat tangannya tanda menyerah. Tuhan turun tangan membantunya. Kalau kita turun tangan dan ikut campur, Tuhan malah mengangkat tangan-Nya.

  1. Mementingkan Rumah Ibadah.

Kunci yang ketiga ada pada ayat 2 Taw 29:3,”Pada tahun pertama pemerintahannya, dalam bulan yang pertama, ia membuka pintu-pintu rumah TUHAN dan memperbaikinya.” Hizkia berhasil karena mendahulukan rumah Tuhan dari pada rumahnya sendiri. Kalau kita memperhatikan Abraham dan Ishak, kita akan tahu bahwa mereka juga mendirikan kemah lebih dahulu sebelum melakukan pekerjaan lainnya.

Hizkia melihat bagaimana raja sebelumnya menutup semua pintu ibadah, sehingga rumah ibadah tidak berfungsi. Namun, ketika Hizkia datang, dia memikirkan rumah ibadah. Dia mementingkan rumah ibadah.

Dalam 2 Taw 29: 17-18 tertulis:”Lalu masuklah mereka menghadap raja Hizkia dan berkata: Kami telah mentahirkan seluruh rumah Tuhan, juga mezbah korban bakaran dengan segala perkakasnya dan meja roti sajian dengan segala perkakasnya. Dan segala perkakas, yang dibuang raja Ahas, ketika ia berubah setia pada masa pemerintahannya, telah kami sediakan dan kami kuduskan. Sekarang semuanya itu ada didepan mezbah TUHAN!”

Hizkia mementingkan  isi rumah Tuhan juga. Kita seringkali memiliki sofa yang indah, sedangkan bangku digereja sudah reyot. Kita ingin berhasil, namun tidak mau mengutamakan rumah Tuhan.

Setelah dia membangun, memperbaiki, mengisi perlengkapannya dan segala kebutuhan rumah Allah, dia sendiri datang beribadah, memuji dan menyembah Tuhan. Dibeberapa tempat ada majelis yang tidak mau memuji Tuhan. Kerjanya hanya duduk. Melihat jemaat dan menghitung berapa orang yang tidak datang kebaktian.

  1. Memberitakan Injil

Kunci keempat, Hizkia memberitakan injil.” Mereka memutuskan untuk menyiarkan maklumat di seluruh Israel, dari Bersyeba sampai Dan, supaya masing-masing datang ke Yerusalem merayakan paskah bagi TUHAN, karena mereka belum merayakannya secara umum seperti yang ada tertulis.

Begitu nyata buah-buah pertobatan Hizkia. Dia melakukan dengan lengkap. Dia memberitakan injil supaya orang yang sudah diinjili pun memberitakan injil kembali. Dia adalah sosok raja yang tidak malu memberitakan injil.

Raja Hizkia suka berkorban dalam pekerjaan Tuhan. Orang yang memberi akan diberi. Ini firman Tuhan. Orang yang memberi dimana saja dia berada, Tuhan pasti memelihara. Dan dengan setia mereka membawa segala persembahan khusus, persembahan kudus itu kesana.( 2 Taw 31: 12 ).

Dan apa hasil dari persembahan mereka yang kudus itu? Firman Tuhan mencatat: “Demikianlah perbuatan Hizkia diseluruh Yudea. Ia melakukan apa yang baik, apa yang jujur, dan apa yang benar dihadapan TUHAN Allahnya. Dalam setiap usaha yang dimulainya untuk pelayanannya terhadap rumah Allah dan untuk pelaksanaan Taurat dan perintah Allah, ia mencari Allah nya. Semuanya Hizkia lakukan dengan segenap hati, sehingga segala usahanya berhasil.

Nah kunci terpenting untuk mencapai keberhasilan dalam segala bidang adalah mengutamakan pelayanan terhadap rumah Allah. Marilah kita mengikuti teladan Hizkia, agar keberhasilan itu menjadi milik kita dan iblis tidak bisa mencurinya.

AYAH YANG BAIK

Baca Ibrani 12:3-15

Kolumnis Leonard Pitts Jr dibesarkan oleh seorang ayah yang ia katakan ”hadir secara fisik, namun tidak secara emosional.” Dalam buku pertamanya tentang menjadi orang tua, Pitts menceritakan pergumulannya dalam menerima ayahnya yang alkoholik dan nuansa ketakutan yang diciptakan ayahnya di rumah. Pitts menghimbau semua orang yang mengalami hal serupa agar melenyapkan amarah mereka karena ketidak hadiran atau siksaan fisik dari para ayah, dan agar mereka tidak mengulang tragedi yang sama kepada generasi berikutnya.

Sebuah pesan dalam Ibrani 12 yang berlaku bagi semua orang Kristen, ternyata juga berbicara khusus kepada para ayah: ”Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang” (ayat 14-15).

Renungkan apa yang akan terjadi dalam keluarga bila kita menghilangkan kebencian dan selalu membangun hubungan yang penuh kedamaian! Jika kita telah diberkati dengan memiliki seorang ayah yang bijak dan penuh kasih, kita patut bersyukur dan mengikuti teladannya. Namun bila ayah kita justru mengecewakan, maka kita harus bergantung pada anugerah Allah, menghapuskan kemarahan terhadap ayah kita, dan berjuang menjadikan diri kita sendiri ayah yang baik yang tidak pernah kita miliki. Memang tidak mudah, namun kita dapat belajar dari Bapa surgawi yang memberi teladan sempurna tentang bagaimana menjadi ayah yang baik.

AYAH YANG BAIK MEMANCARKAN KASIH BAPA SURGAWI


TEGUH DALAM IMAN

Bilangan 14: 20-38

Tuhan membuat ketentuan sesuai sifatnya-sifatNya. Ia tidak seperti manusia yang bisa berubah-ubah. Ia tidak bisa dipengaruhi oleh bujukan atau permohonan pihak lain. Siapapun tak akan bisa melawan. Musa sekalipun tidak mampu melunakkan hati Tuhan, meski ia hamba Tuhan yang Dia pilih secara khusus dan yang pernah berhadapan muka dengan Dia. Tuhan tetap pada keputusanNya.

Akan tetapi, didalam kasihNya, Tuhan memenuhi permintaan Musa untuk mengampuni bangsa itu. Ancaman penyakit sampar dicabut Tuhan. Meski demikian, keadilan tetap ditegakkan: yang salah harus dihukum sebagai konsekuensi pemberontakan mereka. Mereka telah menolak rencana Tuhan yang begitu baik, maka mereka tidak akan menerima penggenapannya. Mereka yang harus dihukum adalah yang telah berkali-kali mengalami mukjizat Tuhan, yaitu generasi yang keluar dari mesir. Dalam perhitungan Tuhan, mereka sudah sepuluh kali menista Tuhan (22-23). Sebab itu mereka akan mati di padang gurun (29, 32-35). Mereka yang tidak dihukum mati pun mengalami penderitaan panjang di padang gurun karena perjalanan memasuki tanah Kanaan diperpanjang menjadi 40 tahun! Keadilan Tuhan juga berlaku atas para pengintai yang menghasut orang Israel. Mereka tetap akan mati kena tulah ( 36-37 ). Sebagai perkecualian, Kaleb dan Yosua tak ikut dihukum, karena iman dan keberpihakan mereka pada Tuhan. Kaleb, Yosua dan mereka yang berumur dibawah 20 tahun, boleh masuk ketanah perjanjian (29-30).

Terlihat bahwa Tuhan menganggap serius penolakan orang yang memercayai Dia. Tuhan memang panjang sabar dan mahapengampun, tetapi bukan berarti Dia membiarkan diri-Nya dinista. Karena itu, percayalah kepada Tuhan dan jangan pernah menolak kehendakNya! Berdirilah teguh didalam iman kepada-Nya (24), karena orang yang berdiri dipihak Allah, tidak akan Dia tinggalkan. Bahkan meski ada tantangan dari pihak lain yang lebih kuat dari kita, kita harus tetap taat pada kehendak-Nya

KONSEKUEN DAN KONSISTEN DENGAN JANJI

Bilangan 32: 25-42

Belas kasih dan kemurahan Allah pada umat-Nya yang penuh kelemahan, terlihat pada bagian ini. Kompromi telah terjadi diantara Musa dengan suku Gad dan Ruben, ditambah lagi separuh Manasye. Masing-masing pihak dituntut untuk setia pada kesepakatan yang sudah dicapai. Suku Gad, Ruben dan separuh Manasye akan angkat senjata bersama suku-suku lainnya, sampai tuntas menaklukkan Kanaan. Dari pihak Musa, ia akan memberikan tanah disebelah Timur sungaii Yordan ini, yang penghuni lamanya sudah dikalahkan, kepada kedua setengah suku tersebut.

Kemurahan Allah terlihat dari keberhasilan suku-suku tersebut membangun pemukiman diwilayah yang sudah ditakluhkan oleh pasukan Israel sebelumnya (33-38). Juga separuh suku Manasye ini berhasil menahlukkan sisa wilayah dari sebelah sungai Yordan yang belum menyerah pada pasukan Israel (39-42).

Sekali lagi kita melihat situasi yang tidak ideal yang terjadi pada umat Tuhan masa lampau. Kita tidak boleh melihatnya sebagai alasan untuk mencari kompromi-kompromi yang melemahkan iman. Justru kita harrus bersyukur dan bangga kalau Tuhan menuntut hal yang lebih tinggi daripada yang dituntutNya dari Israel. Kita memiliki segala kelebihan lain.

Pertama, Alkitab yang lengkap dan cukup untuk menyatakan kehendakNya

Kedua, kuasa kebangkitan Yesus Kristus memampukan kita menang terhadap naluri dosa yang masih ada dan berpotensi menggoda kita untuk kompromi.

Ketiga, teladan Kristus yang taat penuh pada kehendak Bapa, dan tidak membiarkan diri digoda oleh sensasi dunia.

Keempat, Roh Kudus yang hadir dalam diri orang percaya, untuk menguduskan dan memurnikan motivasi hati kita.

Masih bisakah kita jatuh dalam kompromi seperti kedua setengah suku Israel tersebut? Jawabannya adalah ”Ya” Namun, oleh karena itulah kita harus mengandalkan Tuhan saja. Jangan sekali-kali memberi diri dikendalikan oleh kedagingan, atau dibujuk oleh dunia ini!.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: